Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

S H I R A H

---><--- Buletin Islami KINETIK---><---

Home Berita Utama Tokoh Shirah Nurani Senyum IPTEK Redaksi

Keteguhan Seorang Khubaib bin Ba'ad

Khubaib bin Ba'ad adalah seorang yang cukup dikenal di Madinah, termasuk sahabat Anshor. Ia beriman kepada Rasul dengan jiwa yang bersih, terbuka, teguh hati dan mulia. Ringkasnya kebesaran yang luar biasa telah dikalungkan oleh keimanan yang sempurna. 

Pada suatu hari Rasulullah SAW, bermaksud hendak menyelidiki rahasia orang-orang Quraisy. Untuk itu, dipilihkan sepuluh orang dari para sahabatnya, dan termasuklah Khubaib diantaranya. Namun hal ini tercium oleh orang-orang Quraisy, maka mereka mengejar para sahabat ini, mereka dapat ditemukan lantaran biji kurma yang berjatuhan di pasir. Akhirnya, Ashim Bin Tsabit pimpinan rombongan memerintahkan kawan-kawannya untuk menaiki bukit, sementara di bawah telah dikepung  oleh para pemanah musuh yang jumlahnya ratusan.

Para pengepung meminta agar kaum muslin menyerahkan diri. Namun dengan lantang ‘Ashim  berkata “Adapun aku , demi Allah, aku tak akan turun, mengemis perlindungan orang musyrik…! Ya Allah sampaikankanlah keadaan kami ini kepada Nabi-Mu…!”. Perkataan ‘Ashim ini disambut oleh anak panah musuh dan syahidlah tujuh orang sahabat seketika. Akhirnya mereka meminta Khubaib turun bersama dua orang sahabatnya, dan Khubaib pun turun, namun satu orang sahabat tetap bertahan dan juga segera menemui syahidnya.

Khubaib  dan Zaid bin Ditsinnah dibawa keMekkah dan dikeluarga Harits bin ‘Amir pun membeli Khubaib sebagai budak utuk disiksa, begitu juga dengan Zaid. Penyiksaan, demi penyiksaan terus berlanjut, bahkan Zaid mendapat tindakan yang kejam yaitu dengan menusukkan dari dubur hingga tembus kebagian atas dadanya, Khubaib pun tak luput dari penyiksaan, ia tak diberi makan dan minum.

Akhirnya keluarga Harits pun membujuk Khubaib untuk mengingkari Muhammad, namun usaha mereka sia-sia. Orang-orang musyrik itu pun menjadi buas, mengikat tubuh Khubaib ketiang salib, para pemanahpun berlomba-lomba  melepaskan anak panahnya. Tapi ia tidak memicingkan mata dan tidak pernah kehilangan sakinah yang terus memberikan cahaya kepada wajahnya. Untuk terakhir kalinya orang-orang musryik membujuk Khubaib, akan tetapi dengan suara laksana angin kencang, ia berseru: “Demi Allah tak sudi akan bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedangkan Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri pun !”. Ungkapan Khubaib ini membuat musuh menjadi murka, maka ia pun menemui syahidnya disana.

Nah, demikianlah teguhnya seorang Khubaib. Bisakah kita jumpai generasi  setara Khubaib sekarang ini, nyaris sangat sulit ditemui. Begitu besarnya kecintaan beliau pada Rasulullah, sementara kita masih saja mengidolakan orang-orang yang belum tentu dapat menolong kita di akhirat nanti. Cobalah kita renungkan lagi, sudahkah Muhammad kita jadikan idola ? Silakan jawab sendiri.

 (Resti Yevira). Disarikan dari buku Karakteristik 60 Sahabat Rasulullah.

 

 


Copyright @ 2003. Kritik dan saran, silahkan kirim ke alamat redaksi atau email alkamil_fmipa@yahoo.com