S H I R A H
| Home | Berita Utama | Tokoh | Shirah | Nurani | Senyum | IPTEK | Redaksi |
|
Keteguhan Seorang Khubaib bin Ba'ad Khubaib bin Ba'ad adalah seorang yang cukup dikenal di Madinah, termasuk sahabat Anshor. Ia beriman kepada Rasul dengan jiwa yang bersih, terbuka, teguh hati dan mulia. Ringkasnya kebesaran yang luar biasa telah dikalungkan oleh keimanan yang sempurna. Pada
suatu hari Rasulullah SAW, bermaksud hendak menyelidiki rahasia
orang-orang Quraisy. Untuk itu, dipilihkan sepuluh orang dari para
sahabatnya, dan termasuklah Khubaib diantaranya. Namun hal ini tercium
oleh orang-orang Quraisy, maka mereka mengejar para sahabat ini, mereka
dapat ditemukan lantaran biji kurma yang berjatuhan di pasir. Akhirnya,
Ashim Bin Tsabit pimpinan rombongan memerintahkan kawan-kawannya untuk
menaiki bukit, sementara di bawah telah dikepung
oleh para pemanah musuh yang jumlahnya ratusan. Para
pengepung meminta agar kaum muslin menyerahkan diri. Namun dengan
lantang ‘Ashim berkata
“Adapun aku , demi Allah, aku tak akan turun, mengemis perlindungan
orang musyrik…! Ya Allah sampaikankanlah keadaan kami ini kepada
Nabi-Mu…!”. Perkataan ‘Ashim ini disambut oleh anak panah musuh
dan syahidlah tujuh orang sahabat seketika. Akhirnya mereka meminta
Khubaib turun bersama dua orang sahabatnya, dan Khubaib pun turun, namun
satu orang sahabat tetap bertahan dan juga segera menemui syahidnya. Khubaib
dan Zaid bin Ditsinnah dibawa keMekkah dan dikeluarga Harits bin
‘Amir pun membeli Khubaib sebagai budak utuk disiksa, begitu juga
dengan Zaid. Penyiksaan, demi penyiksaan terus berlanjut, bahkan Zaid
mendapat tindakan yang kejam yaitu dengan menusukkan dari dubur hingga
tembus kebagian atas dadanya, Khubaib pun tak luput dari penyiksaan, ia
tak diberi makan dan minum. Akhirnya
keluarga Harits pun membujuk Khubaib untuk mengingkari Muhammad, namun
usaha mereka sia-sia. Orang-orang musyrik itu pun menjadi buas, mengikat
tubuh Khubaib ketiang salib, para pemanahpun berlomba-lomba
melepaskan anak panahnya. Tapi ia tidak memicingkan mata dan
tidak pernah kehilangan sakinah yang terus memberikan cahaya kepada
wajahnya. Untuk terakhir kalinya orang-orang musryik membujuk Khubaib,
akan tetapi dengan suara laksana angin kencang, ia berseru: “Demi
Allah tak sudi akan bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan
dunia, sedangkan Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri pun
!”. Ungkapan Khubaib ini membuat musuh menjadi murka, maka ia pun
menemui syahidnya disana. (Resti Yevira). Disarikan dari buku Karakteristik 60 Sahabat Rasulullah. |
|
Copyright @ 2003. Kritik dan saran, silahkan kirim ke alamat redaksi atau email alkamil_fmipa@yahoo.com