Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

BERITA UTAMA

---><--- Buletin Islami KINETIK---><---

Home Berita Utama Tokoh Shirah Nurani Senyum IPTEK Redaksi

"Kertas Kecil" Pembawa Sukses ?

Pemimpin dan penguasa di negara ini dilahirkan dari mahasiswa-mahasiswa yang dulunya juga berkecimpung dalam dunia perkuliahan. Lantas apa yang mereka lakukan dulu sehingga saat ini banyak yang menjadi "maling" uang rakyat ? 

Jika dilihat sejarah, tak dapat dipungkiri kalau mahasiswa adalah perombak keadaan dinegara ini. Mahasiswa terkenal dengan idealismenya karena jika ada saja sedikit kejanggalan dengan pemerintahan atau kebijakan-kebijakan penguasa maka akan segera turun tangan mengkritisi bahkan turun kejalan. Namun adakah para agen pengubah ini mengkritisi pada saat kecurangan-kecurangan yang terlihat kecil melanda lingkungan pendidikan dimana mereka menimba ilmu.

Disinyalir berbagai kecurangan dilakukan oleh para calon intelektual, apalagi disaat musim Ujian Akhir Semester (UAS). Fenomena ini terjadi disemua fakultas yang ada di UNRI, tidak terkecuali di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Kecurangan-kecurangan itu antara lain membuat catatan kecil atau azimat alias “kope’an” atau entah apalagi namanya untuk menghadapi UAS.

“Kope’an” akan menjadi menu harian yang paling utama, apalagi jika dosen yang mengawasi tidak terlalu peduli dengan keadaan mahasiswanya (longgar dalam pengawasan). Penyakit yang sudah merupakan rahasia umum ini kian hari semakin merebak. Nauzubillah minzalik.

Bagaimana Praktek Curang Ini Bisa Dilakukan?

Praktek melihat “kope’an” ini dilakukan dengan berbagai cara, seperti membuat catatan-catatan kecil yang selayaknya dilihat dengan mikroskop yang ditulis diselembar kertas dengan ukuran kecil, kemudian dilipat-lipat menjadi bagian-bagian yang kecil pula. Cara lain yakni dengan membuat tulisan-tulisan kecil di bangku atau meja kuliah atau bahkan di dinding ruang kuliah. Namun ada juga cara yang lebih spektakuler, yakni membuat tulisan dengan ukuran kecil, kemudian ditempel di berbagai alat tulis seperti mistar, pena, dsb.

Biasanya mahasiswa yang ingin melancarkan aksinya dikala ujian akan menempati bagian pinggir dekat dinding atau di bagian paling belakang ruangan. “Pemaling-pemaling intelektual” ini akan leluasa beraksi apabila dosen yang mengawas ujian hanya sekedar duduk-duduk saja di depan ruangan

Coretan-coretan di bangku kuliah juga merupakan alat penyelamat nilai ujian yang tak kalah penting. Bisa dilihat bangku-bangku perkuliahan di ruang Biologi misalnya, nyaris tak ada yang terhindar dari coretan. Bahkan dinding pun tak ayal jadi korban coretan berisi catatan penting tersebut.

Hasil investigasi yang dilakukan kru Kinetik mendapatkan indikasi dan data yang membuktikan bahwa “azimat” sangat berpengaruh terhadap nilai akhir mahasiswa. Misalnya saja si X bisa memperoleh Indeks Prestasi (IP) melebihi tiga, padahal sebelumnya ia hanya memiliki IP dua. Begitu juga dengan si Y mengalami peningkatan drastis ketika ia melihat “kope’an” dikala ujian, IP yang semula hanya Nasakom (Nasib Satu Koma) bisa langsung melejit menjadi dua koma tujuh. Walau tidak semua mahasiswa yang melakukan tindakan ini namun banyak pihak yang tidak menyukai praktek “maling kecil-kecilan” ini. Yenni Siswanti mahasiswi Biologi ’00 misalnya, sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan rekan-rekan yang melihat “kope’an” dikala ujian. “Saya sedih dan kecewa melihat kawan-kawan yang curang. Rugi kan kita udah capek menghafal sementara mereka enak-enakan aja ngope’, terus hasilnya bisa lebih tinggi dari kita yang menghafal mati-matian”, tandasnya.

Tapi yang namanya maling mereka juga punya prinsip tak satu jalan ke Roma. Walau dosen yang mengawas terlihat ketat, mereka juga akan beraksi walau sangat hati-hati. Biasanya untuk kondisi seperti ini alat tulis yang sudah ditempeli tulisan-tulisan kecil akan menjadi alternatif.

Hal ini diamini oleh Yusriwandi, Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA Unri. Wandi, begitu ia akrab dipanggil, mengatakan bahwa “kope’an” bukan barang baru bagi mahasiswa, ini adalah fenomena sejak zaman nenek moyang yang sulit untuk dibasmi. “Mereka yang melihat “kope’an” dikala ujian biasanya orang-orang yang ketika sekolah dulu sudah terbiasa melakukannya sehingga tak dapat merubah kebiasaan buruk tersebut”, ungkapnya dengan tegas.

Hal senada diungkapkan Sri Catur, M.Si, staf pengajar jurusan Biologi. Beliau mengatakan kebiasaan ini adalah bawaan ketika sekolah dulu. “Orang-orang seperti ini biasanya akan kesulitan sendiri, mereka akan menderita krisis percaya diri”, papar dosen yang terkenal cukup idealis ini berujar.

Tindakan Terhadap Pelanggaran

Bila kejahatan-kejahatan tergolong kecil ini terus-menerus dibiarkan, dikhawatirkan generasi penerus bangsa ini akan menjadi otak-otak korup dan nggak bener seperti pejabat dan penguasa yang saat ini memerintah. “Karena semua hal besar dimulai dari praktek kecil-kecilan terlebih dahulu”, terang Sri Catur.

Lebih lanjut dosen Biologi ini punya cara tersendiri untuk menangani mahasiswa yang melakukan kecurangan. “Biasanya saya akan membuat perjanjian dengan mahasiswa terlebih dahulu sebelum kuliah awal semester dimulai. Sehingga ketika kedapatan melihat “kope’an” atau mencontek sewaktu ujian, maka konsekuensinya tidak saja dikeluarkan dari ruangan tetapi akan saya beri nilai E”, ujarnya pasti.

Dra. Chainulffifah AM, M.Sc selaku Dekan FMIPA Unri juga menyesalkan tindakan yang dilakukan mahasiswanya. Namun jangan sampai karena tindakan yang dilakukan sebagian mahasiswa, dapat mengendorkan semangat mahasiswa yang lain dalam belajar. “Justru mereka yang melihat “kope’an” ini harus disaingi dengan belajar maksimal”, ujar satu-satunya Dekan wanita di Unri ini memotivasi.

Di tengah kehidupan kampus, tentu tidak semua dosen mampu mendeteksi fenomena ini. Oleh karena itu sebagai  Gubernur BEM FMIPA Universitas Riau, Yusriwandi  mengajukan beberapa solusi agar tindakan curang ini bisa diminimalisir. Wandi mengungkapkan agar ketika ujian pihak Fakultas melakukan hal-hal seperti berikut: Pertama, Lembar jawaban disediakan Fakultas, mahasiswa hanya membawa alat tulis yang diperlukan. Kedua, Ada pengawasan yang lebih ketat dan kontinu dari pengawas ujian. Pengawas ujian jangan cuma duduk-duduk saja, tetapi sebaiknya berkeliling memperhatikan mahasiswa yang sedang ujian. Ketiga, Menghimbau kepada mahasiswa untuk menghentikan kecurangan-kecurangan dikala ujian.

Lebih lanjut Wandi berujar agar dosen tidak saja menilai kemampuan mahasiswa berdasarkan hasil ujian saja karena hal ini belum cukup dalam menentukan intelektual seorang mahasiswa. “Percuma lulus dengan IPK tinggi kalau tidak punya kemampuan dan keahlian, toh di dunia kerja persaingan akan lebih ketat lagi”, papar mahasiswa Fisika ’99 ini penuh semangat.

Tidak punya rasa malu dan tidak takut azab Allah inilah yang patut dihadiahkan kepada para “maling intelektual”. Azimat yang membuat mereka saat ini sukses tanpa mereka sadari adalah sebuah malapetaka besar yang akan membawa kejurang kehancuran. Walau dimata manusia mereka adalah jawara-jawara, sungguh Allah maha melihat apa yang mereka perbuat. Akankan praktek “maling” kecil-kecilan ini terus berlanjut sehingga akan melahirkan kader-kader “maling” uang rakyat? Wallahu’alam Bishshowab.

DMJA

Lainnya....

Apakah IPK Tinggi Menjamin Mahasiswa Sukses ?
Keteguhan Seorang Khubaib bin Ba'ad
Bunga-Bungaan Doa untuk Bapak
Jamu Tolak Angin
Plastik yang Mengalahkan Baja

 


Copyright @ 2003. Kritik dan saran, silahkan kirim ke alamat redaksi atau email alkamil_fmipa@yahoo.com